Perang Iran Guncang Pasar: Bitcoin Turun, Tapi Justru Kalahkan Emas dan Perak sebagai Safe Haven

Perang Iran Guncang Pasar: Bitcoin Turun, Tapi Justru Kalahkan Emas dan Perak sebagai Safe Haven

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus menekan pasar global. Saham turun, komoditas berdarah, dan aset kripto ikut terseret. Namun di tengah tekanan itu, Bitcoin justru memperlihatkan sesuatu yang menarik: ketahanan relatif yang melampaui emas dan perak sebagai aset safe haven.

JPMorgan mencatat adanya inflow dan kenaikan aktivitas jaringan Bitcoin selama eskalasi perang berlangsung, sementara emas dan perak justru melemah. Bagi investor kripto Indonesia, ini bukan sekadar berita luar negeri, karena dinamika ini secara langsung memengaruhi harga dan sentimen pasar BTC yang kamu pegang.

Perang Iran dan Pernyataan Trump yang Bikin Pasar Gugup

Pasar keuangan global bereaksi keras setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya "not desperate" untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Pernyataan itu mematahkan harapan investor yang sebelumnya berharap ada sinyal de-eskalasi cepat. Saham AS terkoreksi, dan aset berisiko termasuk kripto ikut jual beli dalam tekanan.

Dampak perang ini tidak hanya terasa di pasar keuangan. BBC melaporkan bahwa sejumlah negara Afrika kini memulai penjatahan listrik dan mengencerkan bensin akibat terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Ini menjadi sinyal betapa dalamnya efek riak (ripple effect) konflik ini ke seluruh dunia.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunjungi Arab Saudi untuk membahas kerja sama drone, tepat saat perhatian Amerika mulai teralihkan ke Iran. Geopolitik global sedang bergerak di beberapa titik sekaligus, dan pasar finansial menyerapnya dengan cara paling jujur: volatilitas.

Harga Minyak Anjlok dan Saham Global Rebound: Trump Sebut Pembicaraan Damai ‘Sangat Produktif’
Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan untuk mengakhiri perang telah berlangsung “sangat baik dan produktif.” Pernyataan itu langsung menjatuhkan harga minyak, memicu rebound di pasar saham global, dan membangkitkan sentimen risk-on yang turut mengangkat harga Bitcoin dan aset kripto lainnya. Bagi investor kripto Indonesia, momen ini penting. Ketika ketegangan geopolitik

Bitcoin Lebih Tangguh dari Emas? JPMorgan Bilang Iya

Di sinilah narasi yang paling menarik muncul. Analis JPMorgan dalam laporannya menyatakan bahwa Bitcoin menunjukkan karakteristik permintaan seperti safe haven selama perang Iran berlangsung, sementara emas dan perak justru melemah. Data on-chain memperlihatkan adanya inflow ke Bitcoin, dengan aktivitas jaringan yang meningkat di tengah kepanikan pasar.

Menurut laporan JPMorgan tersebut, Bitcoin "shows safe-haven-like demand during the Iran war as gold and silver weaken". Ini bukan klaim kecil. JPMorgan adalah salah satu bank terbesar di dunia, dan pernyataan seperti ini dari institusi sekelas mereka punya bobot besar dalam membentuk persepsi investor global terhadap Bitcoin.

Perlu dicatat, Bitcoin tetap turun secara absolut dalam periode ini. Tapi penurunannya jauh lebih kecil dibandingkan emas dan perak yang melemah lebih dalam. Dalam logika pasar, outperform di tengah badai adalah bukti ketahanan, dan itulah yang sedang ditunjukkan Bitcoin.

Bitcoin Stabil di $70.000 Saat Emas Catatkan Penurunan Terbesar dalam 43 Tahun
Emas baru saja mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 43 tahun terakhir setelah anjlok sekitar 4,6% hanya dalam sepekan. Sementara itu, Bitcoin justru bertahan kokoh di kisaran $70.000, bergerak sideways di rentang $68.000–$72.000 selama dua minggu terakhir. Divergensi ini mengubah narasi safe haven secara signifikan dan

Mengapa Bitcoin Bisa Jadi Safe Haven di Era Konflik Geopolitik?

Bitcoin memiliki beberapa karakteristik yang relevan di masa perang. Ia tidak terikat dengan satu negara, tidak bisa disita seperti rekening bank, dan pasokannya terbatas secara algoritmik di angka 21 juta koin. Di saat konflik mendegradasi kepercayaan terhadap aset tradisional, sebagian investor mencari alternatif yang bersifat borderless dan censorship-resistant.

Tren ini sebenarnya sudah terlihat dalam konflik sebelumnya. Selama invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, volume transaksi kripto di kawasan terdampak melonjak signifikan. Warga yang tidak bisa mengakses sistem perbankan tradisional beralih ke Bitcoin sebagai alat simpan nilai darurat. Perang Iran tampaknya mengulang pola serupa, hanya dengan skala dan perhatian institusional yang lebih besar.

Yang membedakan momen ini dari sebelumnya adalah keterlibatan aktor institusional seperti JPMorgan yang kini secara terbuka mengakui peran safe-haven Bitcoin. Dulu narasi ini datang dari komunitas kripto sendiri. Kali ini datang dari bank Wall Street, dan itu mengubah segalanya.

Morgan Stanley ETF Bitcoin Spot Siap Meluncur, Wall Street Makin Serius
Morgan Stanley, salah satu bank investasi terbesar di dunia, selangkah lagi resmi masuk ke pasar kripto lewat peluncuran spot Bitcoin ETF-nya. NYSE secara resmi telah mengumumkan listing produk tersebut, sinyal kuat bahwa peluncurannya tinggal menunggu waktu. Bagi pasar kripto global, ini bukan sekadar berita biasa: ini adalah momen ketika “big

Harga & Price Action

Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran $68.847, turun 2,84% dalam 24 jam terakhir dengan rentang harian antara $68.146 hingga $70.866. Dalam tujuh hari terakhir, BTC sudah melemah sekitar 2,24%, mencerminkan tekanan makro yang konsisten sejak eskalasi konflik Iran memuncak.

Meski begitu, konteks yang lebih besar perlu diperhatikan. Bitcoin masih berada sekitar 45% di bawah all-time high-nya di $126.080. Artinya, dari sisi jarak ke puncak, ruang upside masih sangat terbuka jika sentimen global berbalik. Para analis di The Block juga mencatat bahwa Bitcoin tengah bergerak dalam corridor sempit di sekitar $68.000 sampai $70.000, dengan level $72.000 menjadi zona breakout kunci yang diawasi pasar.

Ethereum, di sisi lain, tertekan lebih dalam, turun 4,08% ke $2.063, masih jauh dari level $2.400 yang oleh analis CoinTelegraph disebut sebagai ambang batas rally berikutnya, dan masih sekitar 58% di bawah ATH-nya di $4.946.

Kesimpulan

Perang Iran memukul hampir semua aset sekaligus, tapi Bitcoin justru muncul sebagai yang paling tangguh di antara aset-aset safe haven tradisional. Dengan JPMorgan secara eksplisit menyebut adanya safe-haven-like demand untuk BTC, narasi Bitcoin sebagai "emas digital" mendapat amunisi baru dari arah yang tidak terduga. Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah konflik Iran akan de-eskalasi atau justru meluas, karena itu yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa minggu mendatang.


Nggak Sempat Pantau Pasar Tiap Hari?

Wajar banget. Kalau perang saja bisa bikin emas melemah dan Bitcoin malah outperform, bayangin betapa sulitnya baca pasar sendirian.

NOBI Dana Kripto yang urus semua itu buat kamu. Dari analisis makro, pantau pergerakan BTC, ETH, dan SOL, sampai pengelolaan portofolionya, semua ditangani tim kami.

Kamu bisa kok investasi dengan tenang. Cek selengkapnya di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post