Selat Hormuz Dibuka Lagi: Dampaknya ke Harga Minyak, Inflasi, dan Bitcoin

Selat Hormuz Dibuka Lagi: Dampaknya ke Harga Minyak, Inflasi, dan Bitcoin

TL;DR: Gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu membuat harga minyak anjlok dan pasar saham melonjak, namun dampak ekonomi dan ketidakpastian masih membayangi pemulihan global.

Kabar gencatan senjata (ceasefire) dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya datang, dan pasar global langsung bereaksi keras. Harga minyak mentah anjlok hingga 15% dalam hitungan jam setelah pengumuman, sementara bursa saham di berbagai negara melonjak. Selat Hormuz, jalur laut yang selama ini diblokir dan menjadi biang keladi kenaikan harga energi global, kini kembali dibuka untuk lalu lintas kapal.

Ironisnya, justru di saat pasar merayakan berita ini, analis memperingatkan bahwa "luka ekonomi" dari konflik AS-Iran belum kemana-mana. Harga bahan bakar dan pangan yang sudah terlanjur tinggi tidak akan turun semalam, dan gejolak di Lebanon masih berlanjut bahkan setelah ceasefire diumumkan. Pasar boleh relief, tapi pemulihan nyata masih butuh waktu berbulan-bulan.


Dampak utama gencatan senjata AS-Iran terhadap ekonomi global meliputi:

  1. Harga minyak mentah turun drastis hingga 15% dalam beberapa jam setelah pengumuman.
  2. Bursa saham global langsung melonjak akibat meredanya ketegangan geopolitik.
  3. Premi asuransi pengiriman melalui Selat Hormuz menurun signifikan.
  4. Biaya logistik internasional mulai stabil seiring dibukanya kembali jalur pelayaran utama.
  5. Ketidakpastian ekonomi tetap tinggi, pemulihan harga bahan bakar dan pangan berjalan lambat.

Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting bagi Ekonomi Dunia

Selat Hormuz adalah titik sempit di antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab. Sekitar 20% dari seluruh pasokan minyak dunia melintas di sana setiap harinya. Ketika Iran menutup atau mengancam jalur ini, efeknya terasa ke seluruh rantai pasokan energi global mulai dari pom bensin di Jakarta sampai biaya produksi pabrik di Eropa.

Sejak konflik AS-Iran meningkat lebih dari sebulan lalu, harga minyak mentah melonjak jauh di atas level sebelum perang. Kapal-kapal tanker menghindari jalur ini, premi asuransi pengiriman meroket, dan biaya logistik global naik signifikan. Menurut analisis BBC Verify, bahkan setelah ceasefire diumumkan, baru segelintir kapal yang berani melintas karena ketidakpastian masih tinggi.

Pemblokiran ini bukan hanya soal minyak. Komoditas lain termasuk gas alam cair juga terdampak, dan efeknya merambat ke harga pupuk, biaya transportasi, hingga ongkos produksi makanan di seluruh dunia.

AS-Iran Gencatan Senjata , BTC Sentuh $72K, Minyak Anjlok
Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata dua minggu. Harga minyak dunia anjlok signifikan, sementara Bitcoin melonjak menyentuh $72.379.

Harga Turun, Tapi Masalah Belum Selesai

Penurunan harga minyak 15% memang terdengar besar, tapi perlu diingat bahwa harga sebelumnya sudah jauh lebih tinggi dari kondisi normal. Artinya, penurunan ini lebih ke arah koreksi dari level yang sudah "melar" akibat perang, bukan kembali ke harga pra-konflik.

Faisal Islam, ekonomi editor BBC, menulis bahwa membuka Selat Hormuz memang akan menenangkan pasar, tapi perang ini sudah menciptakan masalah baru yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ceasefire. Petani di berbagai negara sudah terlanjur menanggung kenaikan biaya operasional yang tinggi, dan mereka tidak bisa begitu saja menurunkan harga jual. "Bahkan jika perang Iran berakhir sekarang, biaya yang sudah dikeluarkan petani harus tetap diteruskan ke konsumen," kata salah satu narasumber petani dalam laporan BBC Business.

Di sisi lain, ceasefire ini bersifat sementara, hanya dua minggu. Belum ada jaminan bahwa negosiasi selanjutnya akan berjalan mulus, dan serangan Israel ke Lebanon yang menewaskan lebih dari 182 orang tepat setelah pengumuman ceasefire menjadi pengingat bahwa kawasan ini masih jauh dari stabil.

Bagaimana Kripto Merespons: Bitcoin Sentuh $72.000 lalu Koreksi

Bitcoin tidak tinggal diam. Pasar kripto ikut rally ketika berita ceasefire muncul, dengan Bitcoin sempat menembus $72.000 dan memicu likuidasi posisi short senilai $280 juta. Momentum ini didorong oleh kembalinya buy-side activity di pasar spot dan futures, serta menurunnya tekanan jual dari short-term holder.

Menurut CoinTelegraph, data on-chain menunjukkan pembeli mulai mendominasi volume di Binance, dengan sebagian trader memasang target harga $90.000 sebagai level berikutnya jika momentum terjaga. Namun perlu dicatat bahwa posisi bearish belum sepenuhnya ditutup, artinya potensi volatilitas ke bawah masih ada jika sentimen berubah. "Truce yang rapuh ini bisa dengan cepat berbalik jika negosiasi dua minggu ke depan gagal," tulis analis CoinTelegraph dalam laporan market mereka.

Kabar tambahan datang dari Morgan Stanley, yang mencatat volume perdagangan hari pertama Bitcoin ETF mereka mencapai $34 juta, melampaui estimasi awal $30 juta dari Bloomberg. Ini sinyal bahwa demand institusional untuk Bitcoin tetap ada meski kondisi makro sedang penuh ketidakpastian.

Perang Iran-AS Hampir Usai, Harga Minyak Naik, Bitcoin Turun
Trump berpidato ke seluruh Amerika, pasar langsung bereaksi. Dalam pidatonya Ia menyebut operasi militer sudah “sangat dekat” dengan selesai.

Harga & Price Action

Saat artikel ini ditulis, Bitcoin berada di $71.019 setelah sempat menyentuh $72.698 dalam 24 jam terakhir, artinya ada koreksi sekitar 2,3% dari titik tertinggi harian. Dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin masih membukukan kenaikan 5,46%, menunjukkan bahwa momentum bullish mingguan masih terjaga meski ada tekanan jangka pendek.

Yang perlu diperhatikan: Bitcoin saat ini masih sekitar 43,67% di bawah ATH-nya di $126.080. Level $72.000 menjadi zona resistensi psikologis yang sedang diuji, dan kemampuan Bitcoin untuk mengkonversi level ini menjadi support kuat akan menentukan apakah rally pasca-ceasefire bisa berlanjut. Ethereum bergerak lebih berat, turun 2,31% dalam 24 jam ke $2.182 dan masih sekitar 55,88% di bawah ATH $4.946, mencerminkan bahwa sentimen altcoin secara umum masih lebih waspada dibanding Bitcoin.

Menurut laporan Energy Information Administration (EIA) tahun 2024, sekitar 21 juta barel minyak per hari—setara dengan 20% pasokan global—melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di jalur ini langsung memengaruhi harga energi dunia. Berdasarkan analisis BBC Verify yang dirilis pada Mei 2024, meskipun gencatan senjata telah diumumkan, hanya sebagian kecil kapal tanker yang berani melintasi Selat Hormuz karena risiko keamanan dan ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

Kesimpulan

Pembukaan Selat Hormuz adalah berita yang disambut baik oleh pasar, tapi bukan berarti semua masalah selesai. Harga energi dan pangan masih akan terasa tinggi selama beberapa bulan ke depan, ceasefire dua minggu ini masih sangat rapuh, dan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah belum mereda sepenuhnya. Di sisi kripto, Bitcoin merespons positif dengan lonjakan ke $72.000 dan likuidasi short besar-besaran, tapi level ini perlu dipertahankan agar momentum tidak berbalik. Yang perlu dicermati investor adalah apakah negosiasi dua minggu ke depan akan menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen atau justru memicu volatilitas baru.


Kalau geopolitik Timur Tengah bisa langsung menggerakkan harga minyak 15% dan short Bitcoin $280 juta dalam sehari, bayangin betapa capeknya harus pantau semua ini sendiri.

Makanya ada NOBI Dana Kripto. Tim kami yang jaga portofolio BTC, ETH, dan SOL kamu, biar momen-momen kayak ini nggak cuma jadi berita yang kamu baca tapi nggak sempat direspons. Pelajari lebih lanjut di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post