Saham Circle Anjlok 20% Setelah Tether Gandeng Auditor Big Four dan RUU Kripto AS Ancam Pendapatan Stablecoin

Saham Circle Anjlok 20% Setelah Tether Gandeng Auditor Big Four dan RUU Kripto AS Ancam Pendapatan Stablecoin

Saham Circle (CRCL) amblas 20% dalam sehari pada Selasa (24/3), salah satu penurunan terbesar sejak perusahaan ini melantai di bursa. Dua katalis negatif datang bersamaan: rival utamanya, Tether, akhirnya menunjuk auditor dari kelompok Big Four, langkah yang selama ini dianggap sebagai keunggulan eksklusif Circle, sekaligus munculnya spekulasi bahwa RUU kripto AS (GENIUS Act dan Clarity Act) berpotensi melarang atau membatasi yield dari produk stablecoin.

Bagi investor kripto di Indonesia, ini bukan sekadar drama korporat AS. Circle adalah penerbit USDC, stablecoin terbesar kedua di dunia yang menjadi tulang punggung ekosistem DeFi dan cross-border payments global. Apapun yang terjadi pada Circle bisa berdampak langsung pada likuiditas dan kepercayaan terhadap pasar kripto secara keseluruhan.

Tether Gandeng Auditor Big Four, Keunggulan Circle Tergerus

Selama bertahun-tahun, salah satu argumen utama Circle untuk menarik kepercayaan institusional adalah transparansi: mereka secara rutin menerbitkan laporan yang diverifikasi oleh firma audit terkemuka, sementara Tether, penerbit USDT, stablecoin terbesar di dunia, kerap dikritik atas kurangnya audit independen yang kredibel.

Kini keunggulan itu terancam runtuh. Tether mengonfirmasi telah menunjuk salah satu firma dari kelompok Big Four untuk melakukan audit cadangan USDT mereka. Langkah ini dipandang pasar sebagai pergeseran besar dalam persaingan stablecoin: jika transparansi bukan lagi keistimewaan Circle, maka diferensiasi mereka dari Tether menjadi jauh lebih tipis.

Investor bereaksi cepat. Dalam satu sesi perdagangan, saham CRCL terjun 20%, sebuah koreksi yang mencerminkan kekhawatiran serius tentang posisi kompetitif Circle di masa depan. Menariknya, di tengah kepanikan ini, ARK Invest milik Cathie Wood justru memanfaatkan momen tersebut dan membeli saham CRCL senilai $16 juta, sebuah sinyal bahwa sebagian pelaku pasar masih melihat nilai jangka panjang di sana.

Harga Minyak Anjlok dan Saham Global Rebound: Trump Sebut Pembicaraan Damai ‘Sangat Produktif’
Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan untuk mengakhiri perang telah berlangsung “sangat baik dan produktif.” Pernyataan itu langsung menjatuhkan harga minyak, memicu rebound di pasar saham global, dan membangkitkan sentimen risk-on yang turut mengangkat harga Bitcoin dan aset kripto lainnya. Bagi investor kripto Indonesia, momen ini penting. Ketika ketegangan geopolitik

RUU GENIUS Act: Larangan Yield Stablecoin yang Bisa Memukul Pendapatan Circle

Tekanan kedua datang dari Capitol Hill. Spekulasi meningkat bahwa GENIUS Act dan Clarity Act, dua RUU kripto yang sedang digodok di Kongres AS, bisa menyertakan klausul yang melarang penerbit stablecoin menawarkan yield atau bunga kepada pemegangnya.

Ini masalah besar bagi Circle. Sebagian besar pendapatan Circle berasal dari bunga cadangan USDC yang diinvestasikan dalam instrumen seperti U.S. Treasury bills. Jika regulasi melarang mereka meneruskan yield ini ke pengguna atau memanfaatkannya sebagai produk kompetitif, model bisnis Circle akan menghadapi tekanan signifikan. Analis pasar menilai ini sebagai ancaman langsung terhadap proyeksi pendapatan Circle ke depan.

"Pembatasan stablecoin yield akan berdampak besar pada bisnis stablecoin yang bergantung pada pendapatan bunga dari cadangan mereka," demikian pandangan yang beredar luas di kalangan analis industri yang mengikuti perkembangan regulasi AS. Delaware sendiri, hampir bersamaan, justru bergerak ke arah berbeda: negara bagian itu sedang membangun kerangka regulasi tersendiri untuk menarik penerbit stablecoin, menunjukkan betapa fragmentasi regulasi di AS masih menjadi ketidakpastian besar.

Bitcoin Stabil di $70.000 Saat Emas Catatkan Penurunan Terbesar dalam 43 Tahun
Emas baru saja mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 43 tahun terakhir setelah anjlok sekitar 4,6% hanya dalam sepekan. Sementara itu, Bitcoin justru bertahan kokoh di kisaran $70.000, bergerak sideways di rentang $68.000–$72.000 selama dua minggu terakhir. Divergensi ini mengubah narasi safe haven secara signifikan dan

Konteks Makro: Pasar Kripto Belum Bisa Bernapas Lega

Kejatuhan saham Circle tidak terjadi di ruang hampa. Pasar kripto secara umum sedang berada di bawah tekanan berlapis. Ketegangan geopolitik dari konflik Iran membuat harga minyak berfluktuasi di atas $100 per barel, memantik kekhawatiran inflasi global. CEO BlackRock Larry Fink bahkan memperingatkan bahwa harga minyak di level $150 bisa memicu resesi global, sentimen yang membuat selera risiko investor semakin tertekan.

Di sisi regulasi, CFTC juga baru saja meluncurkan Innovation Task Force yang fokus pada kripto, AI, dan prediction markets, sinyal bahwa pengawasan terhadap industri ini akan semakin ketat. Semua ini membentuk latar belakang yang tidak kondusif bagi aset berisiko, termasuk saham perusahaan kripto seperti Circle.

Imbal hasil obligasi AS (U.S. Treasury yields) yang meningkat turut menekan kondisi ini. Ketika yield obligasi naik, investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan kembali ke instrumen yang lebih aman, sebuah dinamika yang menambah tekanan jual di seluruh ekosistem kripto.

Harga & Price Action

Bitcoin saat ini diperdagangkan di $70,708, bergerak dalam kisaran $68,970 hingga $71,300 dalam 24 jam terakhir, kenaikan tipis +0,32% yang lebih terlihat seperti konsolidasi ketimbang pemulihan sejati. Dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin sudah turun 4,57%, dan masih berada sekitar 43,9% di bawah ATH-nya di $126,080. Ini bukan posisi yang lemah secara absolut, tapi pasar belum menemukan katalis kuat untuk naik lebih jauh.

Ethereum kondisinya lebih berat. ETH berada di $2,158 dengan koreksi 7,23% dalam sepekan, dan masih lebih dari 56% di bawah ATH-nya di $4,946. Kombinasi sentimen negatif dari isu regulasi stablecoin, tekanan makro dari krisis energi global, dan ketidakpastian RUU kripto AS membuat pasar sulit untuk menemukan momentum bullish dalam jangka pendek. Level $68,000–$70,000 menjadi area yang diperhatikan banyak pihak sebagai zona konsolidasi Bitcoin saat ini.

Kesimpulan

Kejatuhan 20% saham Circle dalam sehari adalah cerminan dari dua ancaman nyata yang muncul bersamaan: Tether yang akhirnya berbenah soal transparansi, dan regulasi AS yang berpotensi memotong sumber pendapatan utama stablecoin. Di tengah tekanan makro global yang belum mereda, investor perlu memantau perkembangan GENIUS Act dan Clarity Act dengan cermat, karena keputusan regulasi di Washington bisa mengubah peta persaingan stablecoin secara fundamental, dan pada gilirannya memengaruhi likuiditas seluruh ekosistem kripto.


Capek ngikutin semua berita ini setiap hari? Wajar banget, antara drama regulasi AS, audit Tether, sampai konflik Iran, rasanya nggak ada habisnya.

Di NOBI Dana Kripto, tim kami yang pantau semua ini dan kelola portofolio BTC, ETH, sama SOL kamu. Kamu tinggal duduk tenang.

Cek selengkapnya di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post