Harga Minyak Tembus $106, Ancaman Trump ke Iran Kembali Guncang Pasar

Harga Minyak Tembus $106, Ancaman Trump ke Iran Kembali Guncang Pasar

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di atas $106 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Iran, menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokir. Trump secara eksplisit menyebut akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran jika jalur pelayaran vital itu tidak segera dibuka.

Bagi investor kripto di Indonesia, ini bukan sekadar drama geopolitik biasa. Lonjakan harga minyak sekelas ini punya efek domino langsung ke inflasi global, kebijakan suku bunga, dan selera pasar terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dan Ethereum.

Trump, Iran, dan Selat yang Memicu Krisis Energi Global

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran tersempit di dunia yang paling kritis. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya. Ketika Iran memblokir atau mengancam memblokir selat tersebut, harga energi global langsung bereaksi.

Trump, dalam pernyataan yang disebut media internasional sebagai expletive-laden threat, menegaskan bahwa AS akan menghancurkan infrastruktur kritis Iran termasuk jembatan dan pembangkit listrik jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang sudah memanas setelah operasi penyelamatan seorang anggota militer AS di wilayah Iran yang diklaim berhasil.

Di Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain, probabilitas AS menginvasi Iran tahun ini melonjak ke 63% setelah pernyataan Trump beredar. Angka ini bukan sekadar statistik, ini mencerminkan bagaimana pasar memandang eskalasi ini sebagai ancaman nyata, bukan sekadar retorika politik.

Perang Iran-AS Hampir Usai, Harga Minyak Naik, Bitcoin Turun
Trump berpidato ke seluruh Amerika, pasar langsung bereaksi. Dalam pidatonya Ia menyebut operasi militer sudah “sangat dekat” dengan selesai.

Efek Domino ke Inflasi, Suku Bunga, dan Aset Berisiko

Harga minyak di atas $110 per barel secara langsung mendorong tekanan inflasi di seluruh dunia. Biaya transportasi naik, harga barang naik, dan bank sentral seperti The Fed akan menghadapi dilema baru. Di satu sisi ekonomi melambat karena gejolak geopolitik, di sisi lain inflasi memaksa mereka untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Skenario higher for longer ini secara historis tidak bersahabat dengan aset berisiko. Saham teknologi dan kripto biasanya tertekan ketika biaya pinjaman tetap tinggi dalam waktu lama. Jim Cramer dari CNBC bahkan secara terbuka mengaitkan pergerakan saham Chevron (CVX) dengan eskalasi konflik Iran, menegaskan bahwa pasar energi dan pasar keuangan sedang bergerak dalam satu narasi yang sama.

"Jika minyak terus di atas $100, kita sedang bicara soal tekanan inflasi yang bisa memaksa The Fed mundur dari rencana pemangkasan suku bunga," tulis sejumlah analis pasar dalam catatan riset yang beredar akhir pekan ini. Bagi kripto, ini berarti upside yang lebih terbatas dalam jangka pendek selama ketidakpastian ini belum mereda.

Quantum Computing Google Ancam Keamanan Bitcoin?
Kemajuan quantum computing Google berpotensi mengancam enkripsi Bitcoin jangka panjang. Seberapa serius ancaman ini dan apa langkah mitigasinya?

Bitcoin dan Ethereum: Naik di Tengah Kabut Ketidakpastian

Menariknya, di tengah gejolak geopolitik ini, Bitcoin justru bergerak positif. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin naik 3,04% ke harga $69.199, bergerak dalam range $66.634 hingga $69.350. Dalam tujuh hari terakhir, kenaikannya mencapai 3,93%.

Ethereum menunjukkan pergerakan yang lebih agresif. Dalam 24 jam, ETH naik 3,56% ke $2.133, dengan range harian di $2.024 hingga $2.139. Dalam sepekan, Ethereum sudah menguat 6,19%. Tapi perlu dicatat bahwa keduanya masih jauh dari puncak masing-masing. Bitcoin saat ini berada sekitar 45% di bawah ATH-nya di $126.080, sementara Ethereum masih sekitar 57% di bawah ATH $4.946.

Ada dua narasi yang saling bertarikan di sini. Di satu sisi, gejolak geopolitik dan ancaman inflasi mendorong sebagian investor mencari safe haven, dan Bitcoin mulai sering disebut dalam kategori itu bersama emas. Di sisi lain, jika situasi terus memburuk dan risk-off melebar ke seluruh pasar, kripto bisa ikut tertekan dalam waktu cepat. Level $69.000 pada Bitcoin saat ini menjadi zona yang diperhatikan banyak trader, karena sempat menjadi area resistance kuat sebelumnya. Kemampuan Bitcoin untuk bertahan dan menembus lebih tinggi dari zona ini akan sangat bergantung pada bagaimana ketegangan AS-Iran berkembang dalam beberapa hari ke depan.

KESIMPULAN

Ancaman Trump terhadap Iran dan lonjakan harga minyak ke $110 per barel bukan sekadar berita geopolitik. Ini adalah sinyal makro besar yang menggerakkan ekspektasi inflasi, arah kebijakan suku bunga, dan selera investor terhadap aset berisiko termasuk Bitcoin dan Ethereum. Investor kripto perlu memantau perkembangan ini dengan cermat karena volatilitas bisa datang dari dua arah: eskalasi lebih lanjut yang memicu risk-off, atau de-eskalasi mendadak yang bisa memicu relief rally di seluruh pasar.


Situasi kayak gini bikin kepala penuh, kan? Minyak naik, Trump marah-marah, pasar kripto naik turun dalam hitungan jam.

NOBI Dana Kripto bantu urus portofolio kamu. Tim kami pantau terus kondisi makro dan kelola portofolio BTC, ETH, serta SOL biar kamu nggak harus mumet ngikutin beritanya.

Cek selengkapnya di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post