Grayscale Ajukan ETF Hyperliquid (GHYP): Sinyal Besar bagi DeFi

Grayscale Ajukan ETF Hyperliquid (GHYP): Sinyal Besar bagi DeFi

Grayscale Investments resmi mengajukan formulir S-1 ke SEC untuk meluncurkan ETF berbasis token Hyperliquid (HYPE). Jika disetujui, produk ini akan diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker GHYP, menjadikan Hyperliquid sebagai salah satu protokol DeFi pertama yang punya kendaraan investasi di bursa saham tradisional.

Langkah ini bukan fenomena tunggal. Sebelumnya, Bitwise dan 21Shares juga sudah mengajukan produk serupa untuk HYPE. Bagi investor kripto Indonesia, tren ini penting karena menunjukkan bahwa minat institusional terhadap aset kripto terus meluas, tidak lagi terbatas pada Bitcoin dan Ethereum saja.

Grayscale Ikut Ramaikan Perlombaan ETF HYPE

Grayscale mengajukan filing S-1 pada Jumat (20/3) malam waktu AS. Dalam dokumen yang diajukan, Grayscale menyatakan bahwa ETF ini akan melacak harga token HYPE secara langsung. Berbeda dengan pengajuan Bitwise yang memasukkan fitur staking, Grayscale memilih untuk tidak menyertakan staking pada tahap awal, meski tidak menutup kemungkinan untuk menambahkannya di masa depan.

Hyperliquid sendiri adalah decentralized exchange (DEX) terbesar untuk perdagangan perpetual contracts secara on-chain. Protokol ini berjalan di Layer 1 miliknya sendiri dan telah menangani volume perdagangan miliaran dolar setiap harinya. Token HYPE berfungsi sebagai aset utilitas dan governance dalam ekosistem Hyperliquid.

Dengan tiga manajer aset besar kini berlomba mengajukan ETF HYPE, persaingan di ruang produk investasi kripto semakin ketat. "Hyperliquid telah membuktikan diri sebagai infrastruktur DeFi yang serius, bukan sekadar eksperimen," tulis analis Grayscale dalam dokumen filing tersebut. Ini menegaskan bahwa Wall Street mulai melihat protokol DeFi sebagai kelas aset yang layak dikemas dalam produk regulasi.

Institusi Tidak Menunggu Harga Bottom 

Pengajuan ETF HYPE oleh Grayscale sejalan dengan tren yang lebih luas. Menurut laporan CoinTelegraph minggu ini, hampir tiga perempat investor institusional berencana menambah alokasi aset digital mereka tahun ini. Bitcoin, Ethereum, stablecoin, dan aset ter-tokenisasi menjadi yang paling diminati. Tapi yang menarik, minat ini kini mulai menjangkau token-token protokol DeFi seperti HYPE.

Langkah Ledger yang baru saja merekrut mantan eksekutif Circle sebagai CFO dan membuka kantor di New York juga menguatkan narasi bahwa infrastruktur kripto sedang dibangun untuk melayani gelombang institusional berikutnya. Semua ini terjadi di tengah ketidakpastian makro: harga emas baru saja mengalami penurunan mingguan terbesar dalam 43 tahun, sementara Bitcoin masih berjuang mempertahankan level $70.000 di tengah kekhawatiran inflasi.

Di sisi regulasi AS, ada kabar positif. Legislator AS dilaporkan telah mencapai agreement in principle soal perlakuan terhadap yield dari stablecoin  dalam RUU kripto komprehensif. Jika RUU ini lolos, kerangka regulasi yang lebih jelas bisa mempercepat persetujuan produk-produk ETF kripto baru, termasuk untuk token DeFi seperti HYPE.

Bitcoin Stabil di $70.000 Saat Emas Catatkan Penurunan Terbesar dalam 43 Tahun
Emas baru saja mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 43 tahun terakhir setelah anjlok sekitar 4,6% hanya dalam sepekan. Sementara itu, Bitcoin justru bertahan kokoh di kisaran $70.000, bergerak sideways di rentang $68.000–$72.000 selama dua minggu terakhir. Divergensi ini mengubah narasi safe haven secara signifikan dan

Apa Artinya bagi Ekosistem DeFi Secara Luas?

Jika SEC menyetujui ETF HYPE, ini bisa menjadi preseden penting. Selama ini, ETF kripto di AS didominasi oleh Bitcoin dan Ethereum. Masuknya token protokol DeFi ke dalam wrapper ETF berarti investor tradisional yang tidak familiar dengan wallet kripto atau DEX bisa mendapatkan eksposur ke sektor ini lewat akun brokerage biasa mereka.

Tentu saja, persetujuan belum pasti. SEC masih dalam proses mengevaluasi berbagai pengajuan ETF kripto, dan ada kemungkinan penolakan atau penundaan. Namun fakta bahwa tiga manajer aset besar secara bersamaan mengajukan produk untuk token yang sama menunjukkan tingkat keyakinan yang tinggi terhadap potensi Hyperliquid.

Bagi ekosistem DeFi secara keseluruhan, ini adalah validasi besar. Seperti yang disampaikan oleh analis The Block, "pengajuan ETF untuk token DEX on-chain menandai momen di mana DeFi benar-benar mulai dianggap serius oleh keuangan tradisional."

Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A Februari 2026
Di tengah volatilitas ekstrem yang melanda pasar Kripto sepanjang Pebruari 2026, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A berhasil menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Pada akhir Pebruari 2026, Nilai Aset Bersih Dana Kripto (NABDK) per Unit Kripto tercatat sebesar Rp963,02. Performa ini relatif stagnan (hanya terkoreksi tipis 0,03%) dibandingkan

HARGA & PRICE ACTION

HYPE saat ini diperdagangkan di kisaran $39,27, turun tipis sekitar 1,48% dalam 24 jam terakhir. Dalam seminggu, token ini justru menguat 6,06%, menunjukkan momentum positif jangka pendek meski ada koreksi harian. Range 24 jam berada di $38,61 hingga $40,54, relatif sempit dan mengindikasikan fase konsolidasi.

Yang perlu dicatat: HYPE masih berada sekitar 33,77% di bawah all-time high-nya di $59,30. Jarak ini cukup signifikan, tapi justru bisa menjadi ruang upside jika katalis seperti persetujuan ETF benar-benar terwujud. Dengan posisi di peringkat ke-15 berdasarkan kapitalisasi pasar, HYPE sudah menjadi salah satu token DeFi terbesar. Potensi re-rating dari narasi ETF bisa mengubah persepsi pasar terhadap token ini secara substansial, meski tentu tidak ada jaminan soal arah harga.

KESIMPULAN

Pengajuan ETF Hyperliquid oleh Grayscale, menyusul Bitwise dan 21Shares, menandai babak baru dalam hubungan antara DeFi dan keuangan tradisional. HYPE kini duduk di persimpangan antara inovasi on-chain dan akses institusional. Investor perlu memantau perkembangan regulasi di AS, khususnya keputusan SEC atas filing ini, serta dampaknya terhadap sentimen pasar kripto secara lebih luas.


Mulai Investasi Aset Kripto Terkelola dengan NOBI Dana Kripto

Adopsi institusi terhadap kripto makin terbuka. Berbagai ETF spot sudah hadir, kini opsinya pun bebas diperdagangkan. Ini bukan hanya soal bursa Amerika. Ini sinyal bahwa kripto makin diakui secara global, termasuk bagi investor di Indonesia.                                                                                                                                 

Kabar baiknya, kamu tidak harus jadi institusi besar untuk bisa investasi kripto dengan cara yang terkelola. NOBI Dana Kripto hadir dengan akses investasi kripto yang dikelola serius. Dari pemilihan aset, pembelian, sampai penyimpanan, semua kami yang urus.

Cek selengkapnya di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post