Bitcoin Stabil di $70.000 Saat Emas Catatkan Penurunan Terbesar dalam 43 Tahun

Bitcoin Stabil di $70.000 Saat Emas Catatkan Penurunan Terbesar dalam 43 Tahun

Emas baru saja mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 43 tahun terakhir setelah anjlok sekitar 4,6% hanya dalam sepekan. Sementara itu, Bitcoin justru bertahan kokoh di kisaran $70.000, bergerak sideways di rentang $68.000–$72.000 selama dua minggu terakhir. Divergensi ini mengubah narasi safe haven secara signifikan dan memaksa investor memikirkan ulang strategi alokasi aset mereka.

Bagi investor kripto Indonesia, momen ini penting. Ketika aset tradisional seperti emas goyah, ketahanan Bitcoin menjadi sinyal bahwa pasar mulai memperlakukan aset digital secara berbeda, bukan sekadar aset spekulatif, tapi komponen strategis dalam portofolio jangka panjang.

Emas Tumbang, Perang Iran dan Kebijakan The Fed Jadi Pemicu

Harga emas anjlok sekitar 4,6% dalam sepekan terakhir, penurunan mingguan terburuk sejak 1983, dan sudah sekitar 8% di bawah level tertingginya tahun ini. Dua faktor utama menjadi pemicu: eskalasi konflik Iran yang mengguncang sentimen pasar global, serta sinyal hawkish dari Federal Reserve AS.

"Inflasi kemungkinan akan naik," kata Jerome Powell, Ketua The Fed, dalam pernyataannya pekan ini , sekaligus menutup harapan pemangkasan suku bunga tahun ini. Pernyataan ini langsung menekan pasar komoditas, termasuk emas yang tidak menghasilkan imbal hasil apapun saat suku bunga tinggi.

Biasanya, emas menjadi pelarian utama saat ketidakpastian geopolitik memuncak. Namun kali ini ceritanya berbeda. Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik Iran justru memperburuk kekhawatiran inflasi, membuat investor lebih memilih likuidasi daripada akumulasi emas.

THR Cair Minggu Ini? Lakukan 5 Hal Ini Sebelum Uangnya Habis Duluan
THR sudah mulai cair minggu ini, tapi pernah gak kamu merasa THR cuma “numpang lewat” aja? Momen mendapatkan THR seringkali jadi “alasan” untuk belanja hedon: baju baru, gadget impian, makan-makan, sampai mudik yang lebih mewah dari biasanya. Tidak ada yang salah dengan merayakan, tapi kalau tidak hati-hati, THR bisa raib

Bitcoin Bertahan di $70K: Sinyal Pergeseran Narasi

Di tengah tekanan makro yang berat, Bitcoin berhasil mempertahankan level psikologis $70.000, meski masih sekitar 5% di bawah ATH tahun ini di kisaran $73.500. Harga bergerak dalam range $68.000–$72.000 selama dua minggu, sebuah konsolidasi yang relatif tenang untuk ukuran Bitcoin.

"Perlambatan aksi jual dari long-term holder menunjukkan tren yang berpotensi konstruktif," menurut Matthew Sigel, Head of Digital Assets Research di VanEck. Ia juga mencatat bahwa meski volatilitas Bitcoin mereda, investor masih membayar premi tinggi untuk downside protection, tanda pasar waspada, tapi belum panik.

Fenomena ini memperkuat argumen bahwa Bitcoin mulai berperan sebagai digital gold, aset yang tidak lagi bergerak semata-mata mengikuti sentimen risk-on dan risk-off tradisional. Ketika emas anjlok 4,6% dan saham tertekan, Bitcoin justru menemukan ekuilibriumnya sendiri.

Institusi Tetap Agresif, Regulasi Stablecoin Jadi Katalis Baru:

Data terbaru menunjukkan hampir 75% investor institusional berencana menambah alokasi aset digital mereka tahun ini, Bitcoin, Ethereum, stablecoin, dan aset ter-tokenisasi menjadi fokus utama. Institusi tidak menunggu bottom; mereka justru memanfaatkan fase konsolidasi untuk masuk lebih banyak.

Di sisi regulasi, ada perkembangan positif. Legislator AS mencapai kesepakatan prinsip soal perlakuan yield pada stablecoin dalam RUU kripto komprehensif yang dikenal sebagai CLARITY Act. Kejelasan regulasi ini bisa menjadi katalis besar bagi adopsi institusional dan ritel, terutama untuk produk berbasis stablecoin.

Langkah Grayscale mengajukan filing S-1 untuk ETF Hyperliquid (ticker: GHYP) juga menambah bukti bahwa industri terus bergerak maju meski kondisi makro bergejolak. Semakin banyak produk investasi kripto yang terstruktur dan teregulasi, semakin mudah bagi investor konvensional untuk berpartisipasi.

NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A Dibuka 6 Januari 2026, Kini Lebih Fleksibel!
Setelah sukses dengan fund perdana yang berhasil sold out dan memperoleh respons positif dari para investor, NOBI Dana Kripto, manajemen aset kripto pertama dan satu satunya di Indonesia, meluncurkan NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A pada 6 Januari 2026 dengan skema fund terbuka atau open fund. Langkah ini menegaskan komitmen

KESIMPULAN

Penurunan emas 4,6% dalam sepekan, terbesar dalam 43 tahun, dan ketahanan Bitcoin di $70.000 menandai potensi pergeseran besar dalam narasi safe haven global. Dengan inflasi AS yang diproyeksikan naik, suku bunga tetap tinggi, dan 75% institusi berencana tambah eksposur kripto, Bitcoin berada di posisi unik, bukan tanpa risiko, tapi semakin sulit untuk diabaikan dalam strategi portofolio modern.


Mulai Investasi Aset Kripto Terkelola dengan NOBI Dana Kripto

Pasar kripto tidak pernah tidur, dan mengikuti semua berita makro memang bisa sangat melelahkan. NOBI Dana Kripto yang urus semuanya buat kamu: pantau pasar, analisis makro, kelola portofolio kamu, sehingga kamu bisa fokus pada kegiatan sehari-hari, tanpa pusingin investasi.

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post