Konflik Iran Membebani Bitcoin: BTC di $67.000 Saat Pasar Menunggu Kepastian

Konflik Iran Membebani Bitcoin: BTC di $67.000 Saat Pasar Menunggu Kepastian

Satu bulan setelah konflik Amerika Serikat dengan Iran pecah, pendekatan instingtif Trump belum menghasilkan resolusi apa pun. Alih-alih meredam ketegangan, situasi justru makin meluas: serangan Iran menyasar situs industri di UAE dan Bahrain, sementara pemberontak Houthi di Yaman ikut melancarkan serangan ke Israel akhir pekan lalu.

Pasar langsung merespons. Minyak melonjak kembali ke $100 per barel, saham-saham Asia slide, dan Bitcoin yang sempat menembus all-time high $126.080 kini terpangkas hampir separuhnya ke kisaran $67.000. Bagi investor kripto Indonesia, ini bukan sekadar berita geopolitik biasa. Ini adalah pengingat bahwa kondisi makro global sedang menentukan arah harga aset kripto dalam jangka pendek.

Strategi Trump yang Tidak Kunjung Efektif

Jeremy Bowen, editor internasional BBC, menulis bahwa Trump menjalankan kebijakan luar negeri berdasarkan gut instinct, bukan kalkulasi strategis yang matang. Hasilnya: satu bulan berlalu tanpa kemajuan diplomatis berarti, sementara eskalasi di lapangan justru terus meningkat.

Iran kini melancarkan serangan ke situs-situs industri di kawasan Teluk. Serangan terhadap pabrik aluminium di UAE dan Bahrain menjadi sinyal bahwa konflik tidak lagi terbatas pada koridor Israel-Iran. Houthi yang berbasis di Yaman pun aktif kembali, menyerang Israel atas nama koalisi yang didukung Teheran.

Ketidakpastian ini yang dirasakan pasar. Tidak ada tanda-tanda ceasefire, tidak ada sinyal negosiasi, dan tidak ada kejelasan kapan situasi akan stabil. Selama ketidakpastian itu bertahan, risk appetite investor global akan terus tertekan.

Perang Iran Guncang Pasar: Bitcoin Turun, Tapi Justru Kalahkan Emas dan Perak sebagai Safe Haven
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus menekan pasar global. Saham turun, komoditas berdarah, dan aset kripto ikut terseret. Namun di tengah tekanan itu, Bitcoin justru memperlihatkan sesuatu yang menarik: ketahanan relatif yang melampaui emas dan perak sebagai aset safe haven. JPMorgan mencatat adanya inflow dan kenaikan aktivitas jaringan

Dampak ke Pasar Kripto: Inflasi, Sentimen, dan "More Room to Fall"

Lonjakan harga minyak di atas $115 per barel bukan angka kosong. Harga energi setinggi ini memperpanjang tekanan inflasi global, dan inflasi yang persisten berarti bank sentral, termasuk The Fed, punya alasan untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga. Kondisi higher for longer seperti inilah yang membebani aset berisiko seperti kripto.

Para analis yang dikutip The Block menyebut bahwa deadlock AS-Iran secara langsung menekan sentimen investor kripto. "Bitcoin masih punya ruang untuk turun lebih jauh selama konflik ini belum ada kejelasannya," tulis analis dalam laporan yang dikutip The Block, Minggu (29/3). Mereka menunjuk pada kombinasi tekanan inflasi, ketidakpastian geopolitik, dan minimnya katalis positif jangka pendek sebagai faktor penekan.

Di sisi lain, ada indikator menarik yang muncul di tengah kegelisahan ini. Volume perdagangan di prediction market meledak: total notional trading di bulan Maret 2026 sudah mencapai sekitar $23,7 miliar, naik drastis dari hanya $1,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu menurut data CoinTelegraph. Sebagian besar volume itu datang dari taruhan geopolitik, cerminan betapa besar ketidakpastian yang dirasakan pasar saat ini.

Sisi Lain: Ada yang Tetap Bergerak Maju

Di tengah tekanan makro, ada perkembangan yang patut dicatat di sisi institusional. Morgan Stanley mengumumkan spot bitcoin ETF dengan biaya 0,14%, lebih rendah dari semua pesaing yang ada di pasar. Bloomberg ETF analyst James Seyffart menyebut langkah ini sebagai "big move" dan memperkirakan produk tersebut bisa diluncurkan pada awal April. Ini sinyal bahwa minat institusi terhadap Bitcoin tidak menghilang meski harga sedang tertekan.

Namun sinyal jangka panjang yang positif itu belum cukup untuk melawan tekanan jangka pendek yang datang dari geopolitik. Pasar saat ini lebih reaktif terhadap berita konflik dibanding perkembangan fundamental industri. Selama minyak berada di atas $115 dan tidak ada sinyal de-eskalasi dari Washington maupun Teheran, rallying yang berkelanjutan akan sulit terjadi.

Morgan Stanley ETF Bitcoin Spot Siap Meluncur, Wall Street Makin Serius
Morgan Stanley, salah satu bank investasi terbesar di dunia, selangkah lagi resmi masuk ke pasar kripto lewat peluncuran spot Bitcoin ETF-nya. NYSE secara resmi telah mengumumkan listing produk tersebut, sinyal kuat bahwa peluncurannya tinggal menunggu waktu. Bagi pasar kripto global, ini bukan sekadar berita biasa: ini adalah momen ketika “big

Harga & Price Action

Bitcoin saat ini diperdagangkan di $67.085, bergerak dalam rentang $65.112 hingga $67.201 dalam 24 jam terakhir. Secara mingguan, BTC masih mencatat pelemahan 1,77%, mencerminkan tekanan yang konsisten sejak eskalasi konflik memuncak. Yang perlu diingat: posisi $67.000 ini masih hampir 47% di bawah all-time high Bitcoin di $126.080. Jarak yang cukup dalam untuk diperhatikan, terutama bagi yang masuk di level atas.

Ethereum tidak jauh berbeda. ETH berada di $2.034, naik tipis 1,22% dalam 24 jam tetapi masih melemah 1,34% dalam sepekan. Jarak ETH dari ATH-nya di $4.946 bahkan lebih dalam, sekitar 58,87%. Kedua aset ini kini bergerak lebih banyak mengikuti sentimen makro dibanding katalis internal masing-masing ekosistem. Level $65.000 menjadi area perhatian bagi BTC: jika ditembus ke bawah, tekanan jual bisa bertambah. Sebaliknya, stabilisasi di atas $67.000 bisa menjadi dasar consolidation sambil menunggu perkembangan geopolitik.

KESIMPULAN:

Konflik AS-Iran yang memasuki bulan pertama tanpa resolusi menjadi beban nyata bagi pasar kripto. Minyak di atas $100 memperpanjang kekhawatiran inflasi, Bitcoin bertahan di $67.085 tapi dengan downside risk yang masih terbuka, dan sentimen investor global masih jauh dari bullish. Perkembangan yang perlu dipantau dalam waktu dekat: apakah ada sinyal diplomasi dari pihak AS, seberapa jauh minyak bisa naik, dan apakah peluncuran spot bitcoin ETF Morgan Stanley cukup jadi angin segar.


Berita Perang Bikin Pusing, Investasi Tetap Gak Pening

Pasar lagi banyak noise-nya. Konflik, inflasi, minyak naik, harga kripto yang naik-turun, semua datang bersamaan.

Kalau kamu nggak punya waktu (dan energi) untuk pantau semua ini setiap hari, NOBI Dana Kripto bisa bantu. Tim kami yang urus portofolio BTC, ETH, dan SOL kamu, kamu tinggal cek hasilnya.

Selengkapnya di nobi.id/produk-kami

Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Share This Post